Proses pembuatan keris secara spiritual dan material adalah praktik yang dalam banyak budaya tradisional di Nusantara dianggap sakral dan berhubungan dengan nilai-nilai spiritual. Di bawah ini adalah gambaran umum tentang langkah-langkah yang terlibat dalam proses pembuatan keris secara spiritual dan material:
Pemilihan bahan baku
- Bahan baku untuk bilah keris biasanya terbuat dari besi, baja dan meteorite. Pemiihan bahan baku besi, kadang bisa dimulai dari pasir besi, yang diambil dari lokasi tertentu, baja/besi yang mengandung sejarah, dan meteorite besi yang mewakili konsep Bapa Angkasa.
- Bahan baku untuk warangka (pembungkus bilah keris) biasanya terbuat dari kayu yang dipercaya memiliki tuah dan atau deder dari cula Badak yang melambangkan kekuatan.
Penempaan
Tidak hanya proses penempaan, tapi siapa yang membuat, pengalaman dan keinginan sang empu/pande keris buat melahirkan karya terbaik juga merupakan laku spiritual yang dijalani oleh calon pemilik keris. Seringkali ada ritual tertentu yang biasanya dilakukan saat awal penempaan keris, baik oleh Pande keris, dan sebaiknya dengan calon pemilik keris.
- Bahan baku untuk bilah keris dipanaskan hingga suhu yang tepat, digabungkan dengan besi meteorite dan baja kemudian ditempa dengan menggunakan palu dan tehnik menempa yang baik.
- Proses tempa yang dilakukan berulang-ulang dan pemilihan jenis pamor (tiban, rekan, tambal) hingga bilah keris mencapai bentuk pamor, panjang keris dan ketebalan yang diinginkan.
Pembentukan dan ricikan
- Setelah bilah keris selesai ditempa, dilakukan membentuk dan membuat ricikan dari bagian-bagian keris seperti ganja (bagian yang menghubungkan bilah dan gagang), gandik, sogokan, lambe gajah (bagian-bagian yang berada di bilah keris), dan ujung bilah keris.
- Pembentukan ricikan dan dapur dilakukan dengan menggunakan alat-alat khusus seperti pahat, mesin gerinda tangan dan tentu saja keterampilan sang Pande.
Tahap finishing
- Setelah bagian-bagian keris selesai dibentuk, dilakukan pekerjaan akhir untuk memperhalus permukaan keris dan membuat ukiran pada bilah dan gagang keris.
- Pekerjaan akhir dilakukan dengan menggunakan alat-alat seperti amplas, pisau, dan pahat.
Pembuatan Warangka
Setelah bilah keris selesai dibuat, dilakukan pembuatan warangka atau pembungkus bilah keris. Warangka dibuat dengan menggunakan bahan baku seperti kayu, logam mulia atau tanduk binatang, dan diukir dengan ukiran yang khas.
Penyelesaian dan penyerahan keris yang biasanya diiringi doa/upacara tertentu dengan tujuan memberikan enerji spiritual pada keris, lalu dilanjutkan dengan acara penyerahan pada pemilik dari pembuat.
Proses pembuatan keris memerlukan keahlian dan ketelitian yang tinggi, serta memakan waktu yang cukup lama. Namun, hasil akhir dari proses pembuatan keris adalah sebuah senjata yang indah dan bernilai sejarah, budaya, dan spiritual yang tinggi.
Harap diingat bahwa proses ini sangat beragam dan bisa berbeda-beda dalam berbagai budaya di Indonesia. Hal ini juga mencerminkan keyakinan dan tradisi spiritual yang berbeda-beda. Proses ini umumnya memerlukan perhatian terhadap aspek spiritual, pemilihan material dan kemampuan Sang Pande Keris dalam setiap langkahnya.